
Judul : Krisis Epistemologi
Penulis : Cak Muhid
Penerbit : eLKISI
Alamat : JL Mojosari - Trawas KM8 Kemuning Mojorejo Punging Mojokerto
Sinopsis :
*Dari Fitnah Awal Islam hingga Liberalisme Modern*
Membaca Penyimpangan Akidah dan Ideologi dengan Worldview Wahyu
Karya Cak Muhid
Mengapa umat Islam yang memiliki Al-Qur’an dan sunnah tetap mengalami perpecahan, penyimpangan, bahkan krisis pemikiran? Apakah akar masalahnya sekadar lemahnya iman dan moral, atau ada persoalan yang lebih mendasar?
Krisis Epistemologi mengajak pembaca menelusuri akar penyimpangan akidah dan ideologi dalam sejarah Islam melalui pendekatan historis–epistemologis. Buku ini menunjukkan bahwa krisis umat tidak selalu bermula dari kurangnya ilmu atau lemahnya spiritualitas, tetapi dari bergesernya otoritas kebenaran: ketika wahyu tidak lagi menjadi pusat worldview dan hakim tertinggi dalam menentukan benar–salah.
Perjalanan buku ini dimulai dari fitnah awal pasca wafat Nabi Muhammad ?, lalu menelusuri lahirnya berbagai aliran klasik seperti Khaw?rij, Syiah, Murji’ah, Jabariyah, Qadariyah, hingga Mu‘tazilah. Semua dibaca bukan sekadar sebagai konflik sejarah, tetapi sebagai pola distorsi epistemologi: absolutisasi parsial terhadap wahyu, akal, figur, maupun pengalaman manusia.
Pembahasan kemudian bergerak menuju dunia modern—sekularisme, liberalisme, humanisme, relativisme moral, pluralisme agama, hingga liberalisasi studi Islam—yang perlahan merelatifkan wahyu dan menempatkan manusia sebagai pusat makna. Buku ini juga mengulas bagaimana arus pemikiran tersebut memengaruhi dunia Islam kontemporer, termasuk di Indonesia.
Melalui konsep worldview wahyu, Cak Muhid menawarkan jalan pemulihan: menempatkan wahyu sebagai otoritas epistemologis final, akal sebagai amanah yang tunduk kepada tauhid, dan Islam sebagai pandangan hidup yang utuh—bukan sekadar simbol spiritual atau identitas budaya.
Ditulis dengan gaya reflektif, kritis, dan sistematis, Krisis Epistemologi bukan hanya buku sejarah pemikiran Islam, tetapi juga cermin bagi pembaca modern untuk mengevaluasi kembali cara berpikirnya sendiri.
Sebab pada akhirnya, krisis terbesar umat bukan kekurangan iman, melainkan berpindahnya otoritas kebenaran.